MEMAHAMI FAKTOR-FAKTOR RESILIENSI PADA INDIVIDU PENYANDANG TUNADAKSA
DOI:
https://doi.org/10.35760/psi.2025.v18i1.395Kata Kunci:
Disabilitas fisik, Dukungan sosial, Resiliensi, Penyandang tunadaksaAbstrak
Kajian literatur ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi pada individu penyandang tunadaksa, yang kerap menghadapi tantangan psikososial kompleks di luar keterbatasan fisik. Resiliensi dipahami sebagai proses dinamis yang terbentuk melalui kekuatan personal (seperti regulasi emosi, optimisme, dan efikasi diri), dukungan eksternal (keluarga, teman, komunitas), serta pemaknaan terhadap pengalaman hidup. Berdasarkan sintesis terhadap sepuluh studi empiris terbitan tahun 2016–2025, ditemukan bahwa faktor-faktor utama pembentuk resiliensi mencakup atribut internal seperti empati, kontrol impuls, dan analisis kausal, serta sumber daya eksternal yang diklasifikasikan dalam model Grotberg “I Have, I Am, I Can”. Temuan menunjukkan bahwa bentuk resiliensi bervariasi menurut usia, konteks sosial, dan jenis disabilitas (bawaan vs. non-bawaan). Remaja lebih bergantung pada dukungan sosial, sementara dewasa muda cenderung mengandalkan refleksi diri dan penerimaan. Faktor spiritualitas juga muncul sebagai pelindung psikologis. Kajian ini memberikan landasan konseptual untuk merancang intervensi psikososial yang kontekstual dan berbasis kekuatan guna mendukung adaptasi dan kualitas hidup penyandang tunadaksa.
Referensi
Danti, R. R., & Satiningsih, S. (2021). Resiliensi remaja penyandang tunadaksa yang mengalami broken home. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 8(6), 95–105. https://doi.org/10.26740/ cjpp.v8i6.41518
Felanni, C. R., & Aviani, Y. I. (2024). Resiliensi pada tunadaksa non bawaan. Jurnal Anestesi, 2(1), 62–70. https://doi.org/10.59680/anestesi.v2i1.744
Fitriyah, A. (2019). Resiliensi seorang b-boy tuna daksa: Studi kasus tunadaksa karena kecelakaan kerja (Disertasi tidak diterbitkan). Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).
Grotberg, E. (1995). A guide to promoting resilience in children: Strengthening the human spirit. Early Childhood Development Practice and Reflections, v. 8. The Hague-NO: Bernard Van Leer Foundation.
Ramadhanti, D. H. (2019). Resiliensi pada penyandang disabilitas fisik pasca kecelakaan (tesis tidak diterbitkan). Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Larasati, T., & Savira, S. I. (2019). Resiliensi pada penyandang tunadaksa akibat kecelakaan. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 6(5). https://doi.org/10.26740/cjpp.v6i5.31432
Leivich, K., & Shatte, A. (2003). The resilience factor: 7 Keys to finding your inner strength and overcoming life's hurdles. Random House, Incorporated.
Oviyanti, M. (2019). Resiliensi pada remaja tunadaksa yang mengalami bullying (Tesis tidak diterbitkan) Universitas Airlangga.
Qonitatin, N., & Rahmawati, I. S. (2024). Mengatasi tantangan pasca amputasi: Dinamika resiliensi pada pria dewasa muda. Journal of Psychological Science and Profession, 8(3), 244–258. https://doi.org/10.24198/jpsp.v3i8.57909
Stefiany, N. M., Pratiwi, A., & Ramli, A. H. Proses resiliensi anak berkebutuhan khusus tuna daksa berprestasi (Studi Kasus di YPAC Kota Malang).
Wildayati, R., Fitriana, D., & Octavia, I. A. (2024). Resiliensi atlet penyandang tuna daksa non bawaan di NPCI (National Paralympic Commitee Indonesia) Kota Padang. Journal of Psychology Students, 3(2), 54-66.
Winanda, C., & Kasturi, T. (2016). Resiliensi pada penderita tuna daksa akibat kecelakaan (Tesis tidak diterbitkan). Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Psikologi

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Universitas Gunadarma 