GAMBARAN DETERMINAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI KOTA LUWUK
DOI:
https://doi.org/10.35760/jbs.2026.v4i1.151Keywords:
Anemia, edukasi gizi, pola makan, remaja, status giziAbstract
Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi anemia pada remaja usia 15–24 tahun mencapai 32%, dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Anemia pada remaja putri dapat menurunkan konsentrasi belajar, produktivitas, serta berdampak jangka panjang terhadap kesehatan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan faktor risiko anemia pada remaja di kota luwuk. Ini merupakan penelitian observasional deskriptif yang dilaksanakan tahun 2025. Sampel penelitian adalah remaja putri siswa SMAN 2 di Kota Luwuk yang mengalami anemia dengan jumlah 47 orang. Variabel penelitian antara lain: pengetahuan tentang anemia, status gizi, kebiasaan sarapan, keteraturan makan, program diet, dan pola menstruasi. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan pada 47 sampel penelitian, terdapat 38,3% dengan status gizi kurus. Sebagian besar (61,7%) belum pernah mendapatkan edukasi tentang anemia. Tujuh dari sepuluh (70,2%) remaja putri melewatkan waktu makan. Masih terdapat 19.1% remaja tidak sarapan dan 36,2% menjalani program diet. 36,2% dengan siklus menstruasi tidak teratur, 68,1% mengalami nyeri sedang dan berat, serta 62,3% merasa lelah saat menstruasi. Kesimpulan: Terdapat permasalahan dalam pengetahuan tentang anemia, status gizi, kebiasaan sarapan, keteraturan makan, program diet, dan pola menstruasi remaja putri di Kota Luwuk. Penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai dalam pemberian edukasi anemia, skrining anemia dan pemberian tablet tambah darah pada remaja.
Downloads
References
1. Kemenkes RI. (2021). Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri. Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat, Kemenkes RI.
2. Yip, R., & Ramakrishnan, U. (2002). Experiences and challenges in developing countries. The Journal of Nutrition, 132(4), 827S–830S.
3. Kementerian Kesehatan RI. (2018). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.
http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/hasil-riskesdas-2018.pdf
4. WHO (2015) The Global Prevalence of Anemia in 2011. World Health Organization, Geneva.
5. WHO. (2025). Global anemia estimates. https://www.who.int/teams/nutrition-and-food-safety/monitoring-nutritional-status-and-food-safety-and-events/global-anaemia-estimates
6. World Health Organization (WHO). (2011). Haemoglobin concentrations for the diagnosis of anaemia and assessment of severity. Geneva: WHO Press.
https://www.who.int/vmnis/indicators/haemoglobin.pdf
7. Picauly, I., & Toy, S. M. (2013). Anemia pada remaja putri dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jurnal Gizi dan Pangan, 8(1), 49–56.
8. Soegijanto, S. (2016). Anemia Defisiensi Besi pada Remaja. Surabaya: Airlangga University Press.
9. Almatsier, S. (2016). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
10. Lestari, R. A., & Yuniastuti, A. (2020). Hubungan asupan zat besi dan status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri. Media Gizi Indonesia, 15(1), 61–68.
11. Siregar, A. Y., & Purba, H. P. (2020). Pola Makan dan Kejadian Anemia pada Remaja. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 15(1), 55-61.
12. Lestari, R. D., & Widjaja, N. (2019). Hubungan Asupan Zat Besi dan Menstruasi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri. Jurnal Gizi Indonesia, 7(2), 95-102. https://doi.org/10.31227/jgi.v7i2.102
13. Hardinsyah, & Supariasa, I. D. N. (2012). Penilaian Status Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Bidan Srikandi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Universitas Gunadarma 